Selasa, 23 Juni 2026

Hikmah Puasa Asyura

 

*Hikmah Puasa Asyura: Meneladani Para Nabi, Mensyukuri Nikmat Allah, dan Meraih Ampunan di Bulan Muharram*

Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى. Ia termasuk empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an, bulan yang di dalamnya seorang muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi maksiat.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ﴾

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah, di antaranya ada empat bulan haram.”

(QS. At-Taubah: 36)

Di antara hari yang paling agung dalam bulan Muharram adalah hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Hari ini memiliki sejarah panjang sejak zaman para nabi, dan Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus terhadapnya dengan menganjurkan umatnya untuk berpuasa.

Puasa Asyura: Sunnah yang Sangat Dianjurkan

Puasa Asyura dahulu pernah diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Setelah Ramadhan diwajibkan, hukum puasa Asyura berubah menjadi sunnah yang sangat dianjurkan.

Dari Mu‘awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، وَلَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ صَامَ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ»

“Sesungguhnya ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkan kalian berpuasa pada hari ini. Aku berpuasa, maka siapa yang ingin berpuasa silakan berpuasa, dan siapa yang ingin berbuka maka silakan berbuka.”

(HR. al-Bukhari no. 2003 dan Muslim no. 1129)

Imam an-Nawawi رحمه الله (w. 676 H) berkata:

صوم يوم عاشوراء سنة مؤكدة

“Puasa hari Asyura adalah sunnah muakkadah.”

(Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, Dar al-Fikr, juz 6 hlm. 383)

Keutamaan Besar: Penghapus Dosa Setahun

Keutamaan terbesar puasa Asyura disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah رضي الله عنه:

«صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.”

(HR. Muslim no. 1162)

Hadits ini menunjukkan besarnya karunia Allah. Dengan satu hari puasa sunnah, seorang muslim dapat memperoleh penghapusan dosa selama satu tahun sebelumnya.

Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan:

المراد تكفير الصغائر دون الكبائر

“Yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar.”

(Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi, juz 8 hlm. 51)

Adapun dosa-dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh, penyesalan, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Hari Diselamatkannya Nabi Musa عليه السلام

Salah satu hikmah terbesar puasa Asyura adalah sebagai ungkapan syukur atas pertolongan Allah kepada Nabi Musa عليه السلام dan Bani Israil dari kezaliman Fir‘aun.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan:

«قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ صَالِحٌ، نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

“Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata: Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu. Rasulullah ﷺ bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa.”

(HR. al-Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130)

Hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin adalah pewaris ajaran tauhid yang dibawa seluruh nabi. Kecintaan kepada Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan seluruh rasul merupakan bagian dari iman.

Pelajaran Besar Tentang Pertolongan Allah

Peristiwa Asyura mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering datang ketika seluruh jalan tampak tertutup.

Ketika Nabi Musa berada di depan Laut Merah dan di belakangnya pasukan Fir’aun, sebagian pengikutnya berkata:

﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ﴾

“Kita pasti akan tersusul.”

(QS. Asy-Syu‘ara: 61)

Namun Nabi Musa menjawab:

﴿كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

(QS. Asy-Syu‘ara: 62)

Betapa banyak di antara kita yang pernah berada pada titik merasa tidak ada jalan keluar. Hutang menumpuk, usaha sulit, kesehatan terganggu, keluarga diuji, cita-cita terasa jauh. Asyura mengajarkan bahwa saat manusia merasa jalan tertutup, Allah mampu membuka jalan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Menghidupkan Syukur dengan Amal Saleh

Puasa Asyura juga mengajarkan bahwa syukur diwujudkan dengan ketaatan.

Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur atas nikmat keselamatan. Rasulullah ﷺ pun berpuasa dan menghidupkan sunnah tersebut.

Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله (w. 795 H) berkata:

وكان موسى عليه السلام يصومه شكراً لله

“Nabi Musa berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur kepada Allah.”

(Lathā’if al-Ma’ārif, Muassasah ar-Risalah, hlm. 103)

Karena itu, syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah, tetapi diwujudkan dalam bentuk ibadah dan ketaatan.

Mengapa Dianjurkan Berpuasa Tanggal 9 Muharram?

Meskipun Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura, beliau juga menginginkan umatnya memiliki identitas tersendiri dan tidak menyerupai Ahli Kitab secara persis.

Beliau bersabda:

«لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”

(HR. Muslim no. 1134)

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:

فيه استحباب صوم التاسع مع العاشر

“Dalam hadits ini terdapat anjuran berpuasa tanggal sembilan bersama tanggal sepuluh.”

(Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, juz 8 hlm. 12)

Karena itu para ulama menganjurkan agar puasa Asyura disertai puasa Tasu’a (9 Muharram).

Tiga Tingkatan Puasa Asyura

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani رحمه الله (w. 852 H) menjelaskan:

مراتب صوم عاشوراء ثلاث

“Tingkatan puasa Asyura ada tiga.”

(Fatḥ al-Bārī, Dar al-Ma‘rifah, juz 4 hlm. 246)

Beliau kemudian menjelaskan:

أدناها أن يصوم العاشر وحده

“Tingkatan paling rendah adalah berpuasa tanggal 10 saja.”

وفوقه أن يصوم التاسع معه

“Lebih utama darinya adalah berpuasa tanggal 9 dan 10.”

وفوقه أن يصوم التاسع والعاشر والحادي عشر

“Dan lebih utama lagi adalah berpuasa tanggal 9, 10, dan 11.”

(Fatḥ al-Bārī, juz 4 hlm. 246)

Dengan demikian terdapat tiga tingkatan puasa Asyura:

Pertama, puasa tanggal 10 Muharram saja.

Kedua, puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, dan inilah tingkatan yang paling sempurna.

Mengumpulkan Banyak Keutamaan Sekaligus

Orang yang berpuasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram mengumpulkan berbagai keutamaan sekaligus:

* Keutamaan puasa Asyura yang menghapus dosa setahun yang lalu.

* Keutamaan memperbanyak puasa di bulan Muharram.

* Keutamaan menyelisihi Ahli Kitab.

* Keutamaan puasa tiga hari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ»

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”

(HR. Muslim no. 1163)

Imam Ibnu Rajab رحمه الله berkata:

صيام عاشوراء يكفر ذنوب سنة ماضية، وصيام يوم عرفة يكفر ذنوب سنتين

“Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, sedangkan puasa Arafah menghapus dosa dua tahun.”

(Lathā’if al-Ma’ārif, hlm. 101)

Muharram Momentum Memperbaiki Diri

Awal tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah pengingat bahwa umur kita berkurang dan perjalanan menuju Allah semakin dekat.

Puasa Asyura mengajarkan syukur, kesabaran, harapan, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba yang beriman.

Sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Fir’aun, Allah juga mampu menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari berbagai kesulitan yang mereka hadapi.

Karena itu, Asyura bukan hanya tentang sejarah masa lalu, tetapi tentang keyakinan bahwa Allah yang menolong para nabi adalah Allah yang sama yang kita sembah hari ini.

Semoga Allah ﷻ memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah puasa Tasu’a dan Asyura, menerima amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa yang telah lalu, serta menjadikan Muharram sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih dekat kepada-Nya.

Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Wallāhu subḥānahu wa ta‘ālā a‘lam

✒️ Madarif Institute

Untuk mendukung dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA

🎥 Youtube: Madarif Institute

📷 Instagram: @madarifinstitute

🌐 Web: madarifinstitute.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar